Pendidikan
di Negara Indonesia
1. System
pembelajaran
2. Kurikulum
Indonesia:
Kurikulum merupakan dasar dan pedoman dalam
menjalankan sistem pendidikan nasional. Sepanjang usia kenegaraan, Indonesia
pun telah memiliki 10 kurikulum pendidikan.
Dikutip dari laman Ditjen Dikti
Kemendikbud, Senin (15/12/2014), perubahan kurikulum itu terjadi pada 1947,
1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 1999, 2004, 2006 dan 2013. Perubahan ini
sendiri merupakan keniscayaan sebagai konsekuensi perubahan zaman. Faktor-faktor
yang memengaruhi perubahan tersebut berasal dari internal Indonesia seperti
sistem politik, sosial budaya, ekonomi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek). Selain itu, faktor eksternal
seperti tingkat daya saing antarnegara juga turut menentukan arah kurikulum
pendidikan nasional.
Kemendikbud menyebut, sebagai seperangkat rencana pendidikan,
kurikulum perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan
perubahan yang terjadi di masyarakat. Meski demikian, perubahan tersebut tetap
mengacu pada Pancasila dan UUD 1945. Perbedaanya ada pada penekanan pokok dari
tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Secara sederhana, periode 1947-1968 merupakan masa Kurikulum
Rencana Pelajaran. Pada masa ini, pemerintah Indonesia yang baru lahir berupaya
mengembalikan arah pendidikan yang berorientasi kolonial menjadi pendidikan
sesuai kepentingan nasional.
Kemudian, pada periode 1975-1994, kurikulum dirancang untuk
berorientasi pada pencapaian tujuan. Sistem pendidikan pada masa ini menekankan
materi pelajaran dengan bersumber pada disiplin ilmu. Selain itu, pendidikan
berfungsi untuk memelihara dan mewariskan ilmu pengetahuan, teknologi dan
nilai-nilai budaya masa lalu kepada generasi yang baru.
Periode berikutnya, adalah 2004-2006. Dua kurikulum yang berlaku
adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). KBK sendiri disusun untuk memenuhi pencapaian penguasaan
keterampilan (skill) siswa untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil
di masa datang. Sedangkan melalui KTSP, sekolah dapat mengembangkan kurikulum
pendidikan sesuai dengan kapasitas masing-masing, dengan mengacu pada standar
isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).
KTSP digantikan dengan Kurikulum 2013 atau
Pendidikan Berbasis Karakter. Dikutip dari kurikulum2013.org ini merupakan
kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter. Siswa
dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta
memiliki sopan santun disiplin yang tinggi.
3. Tenaga
pengajar
Permasalahan mengenai
peningkatankesejahteraan guru di Indonesia yang masih jauh panggang dari
api menjadi perhatian Menteri Pendidikan Anies Baswedan pada upacara peringatan
Hari Guru yang jatuh tanggal 25 November 2014. Menyedihkan, ternyata masih
ada guru di Indonesia yang menerima gaji Rp 150 ribu per bulan. Menteri
menyatakan komitmennya untuk memperbaiki nasib guru dengan menetapkan gaji
minimum serupa UMK.Memang tidak semua guru mengalami nasib yang buruk. Untuk
guru PNS sendiri terutama di DKI Jakarta penghasilannya cukup besar dan tidak
kalah dari penghasilan pegawai swasta.
Kepala Bidang Tendik Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Hj Ida Hidayati mencontohkan, guru PNS golongan
III yang sudah sertifikasi memperoleh gaji pokok Rp 2.763.980 ditambah
Tunjangan Kerja Daerah (TKD) Rp 2.900.000 dan sertifikasi Rp 2.168.700;
sehingga penghasilan seluruhnya Rp 7.832.684;Sedangkan guru PNS golongan IV,
kata Ida, memperoleh gaji pokok Rp 3.195.000, TKD Rp 2.900.000 dan sertifikasi
Rp 2.168.700 sehinggapenghasilan seluruhnya Rp 8.263.700. Menurut dia,
dibandingkan dengan tunjangan Kesra sebelumnya tunjangan guru sudah naik Rp
400.000.Untuk guru PNS di daerah lain gaji pokoknya disesuaikan dengan gaji
pokok yang diterima oleh PNS berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 34 tahun
2014 mengenai Perubahan Keenambelas atas Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1977
tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil. Adapun bagi guru
yang telah lolos sertifikasi akan menerima tunjangan sertifikasi atau yang
disebut juga dengan TP (Tunjangan Profesi) sebesar 1x Gaji Pokok yang diterima
setiap bulannya. Sedangkan bagi guru yang belum lolos sertifikasi, pemerintah
akan memberikan DTP (Dana Tambahan Penghasilan) yang besarnya Rp 250 ribu. Ini
berlaku bagi semua Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) di seluruh wilayah
Indonesia. Mereka pun berhak atas gaji ke-13 yang merupakan hak bagi
PNS.Sementara itu nasib guru honorer amat memprihatinkan. Ketua Forum
Komunikasi Guru Tidak Tetap (FKGTT) Akhmad Hanif mengatakan bahwa rata-rata
gaji guru honorer yang bekerja di sekolah negeri adalah Rp 150 – 200 ribu per
bulan. Bahkan menurutnya masih ada yang dibayar di bawah Rp 100 ribu per bulan.
4. Jenjang pendidikan
Pendidikan
Anak Usia Dini
Adanya pendidikan usia dini
menunjukkan bentuk perhatian penuh Pemerintah Indonesia terhadap perkembangan
pendidikan bagi anak Indonesia. Pendidikan ini berlandaskan Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang
menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan
yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasamani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut. Pada PAUD, staf pengajar berasal dari tenaga
profesional yang telah menempuh studi PAUD sebelumnya.
Pendidikan
Dasar
Pendidikan dasar merupakan
pendidikan yang ditempuh selama kurun waktu 9 tahun, yakni di Sekolah Dasar /
Madrasah Ibtidaiyah selama 6 tahun dan Sekolah Menengah Pertama / Madrasah
Tsanawiyah selama 3 tahun. Pendidikan dasar ini juga diberikan bantuan dana
oleh pemerintah untuk menunjang keberjalanannya. Bantuan dari pemerintah yang
bernama Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ini ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan seperti buku-buku dan fasilitas lainnya di sekolah.
Pendidikan Menengah
Pendidikan menegah di Indonesia
dapat ditempuh melalui Sekolah Menengah Atas (SMA) / Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) / Madrasah Aliyah. Sekolah menengah ini ditempuh dalam kurun waktu 3
tahun, dan siswa kemudian diarahkan menuju bidang yang diminati sebelum
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pendidikan
tinggi
Pendidikan tinggi merupakan jenjang
yang lebih spesifik yang mengarahkan individu untuk menghasilkan sumber daya
profesional yang berkualitas.
B. Pendidikan
di Negara china
1. System pembelajaran
Seperti
yang sudah dikatakan sebelumnya, bahwa Cina tidak melakukan konsep belajar
menghafal, cara mengajar yang kaku yang hanya bertujuan untuk lulus ujian saja.
Melainkan sistem pendekatan atau sistem pembelajaran di Cina menekankan pada
penguasaan materi, konsep, dan penguasaan keterampilan bagi para siswanya
dengan cara siswa diajarkan dan diarahkan untuk memahami dan mengalami suatu
hal yang sedang dipelajarinya. Dengan pendekatan pembelajaran seperti ini siswa
lebih dapat dengan mudah mencerna pelajaran dan pemahaman yang telah didapatnya
dapat terinternalisasi sepenuhnya dalam diri. Selain itu sarana dan pra sarana
sekolah di Cina sangat mendukung proses pembelajaran. Sistem pembelajaran ini
sangat baik untuk diterapkan hanya saja di Indonesia sendiri sarananya kurang
mendukung, contohnya dalam laboratorium saja banyak terdapat mikroskop yang
rusak, hal ini sangat menganggu proses pembelajaran di laboratorium.
2.
Tenaga
Pengajar
Sistem
pendidikan Cina lebih terbuka. Guru dikelompokan berdasarkan kualitas. Siswa
bebas mengevaluasi kualitas guru secara objektif, mulai dari guru berkompeten
sampai guru yang tidak qualified.
Pada tahun 1990, Cina memiliki
13,45 juta tenaga pengajar dengan perincian 5,58 juta guru SD; 3,63 juta
guru-guru Sekolah Menengah; dan 394.500 adalah guru di Perguruan Tinggi
regular. Adapun standar untuk menjadi guru di Cina adalah melalui pendidikan
dalam jabatan (inservice training) yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi
dengan biaya pendidikan sepenuhnya ditanggung oleh negara.
Cina sangat menempatkan guru
sebagai prioritas dalam sistem pendidikan mereka. Selama lebih dari 100 tahun,
pendidikan guru secara sistematis telah dilakukan di Cina dan telah
berkontribusi pada terciptanya korps guru di negeri itu. Pendidikan guru di
Cina saat ini menekankan pada perubahan pemikiran tentang pendidikan, konsep,
materi dan metode pembelajaran, terutama moralitas guru. Semuanya dilakukan
sebagai jawaban atas permintaan akan pentingnya mudernisasi pendidikan,
orientasi global, dan masa depan.
Reformasi pendidikan dan kebutuhan
realitas global mendorong pemerintah Cina untuk meningkatkan kuantitas dan
kualitas guru-guru baru. Pemerintah Cina menyediakan pendidikan yang
berkesinambungan untuk meningkatkan pelayanan guru-guru sekolah, melakukan
pemerataan guru hingga ke daerah-daerah terpencil, dan mendorong berkembangnya
institusi pelatihan guru. Semua dilakukan sebagai salah satu bagian yang tidak
terpisahkan dari upaya memajukan pendidikan di Cina.
Dengan
kata lain, Cina sangat mementingkan dan memperhatikan profesi guru sehingga
nantinya akan menghasilkan guru yang berkompeten , berbeda sekali dengan di
Indonesia, nasib guru di Indonesia, nasib guru di Indonesia terlebih-lebih di
daerah terpencil sangat menyedihkan diabaikan, bagaimana mungkin menjadikan
guru yang kompoten??? Bahkan saat ini banyak orang yang tidak ingin menjadi
guru.
3.
Kurikulum
Reformasi
yang dilakukan Cina di dunia pendidikan secara langsung menguah kurikulum
sekolah dimana ditekankan pada pengembangan potensi yang dimiliki siswa,
kurikulum diarahkan untuk memfasilitasi potensi yang dimiliki siswa agar
berkembang optimal. di Cina tidak terlalu menekankan kepada hapalan dan
orientasi untuk lulus ujian (kognitif) karena dianggap dapat membunuh karakter
anak, misalnya PR yang terlalu banyak, pelajaran yang terlalu berat, orientasi
hapalan dan drilling, yang kesemuanya dapat membebani siswa baik secara fisik,
mental maupun kejiwaan. Sistem sekolah di Cina mewajibkan setiap muridnya untuk
berlatih olahraga selama paling tidak satu jam sebelum pelajaran dimulai.
Kegiatan lain seperti memasak juga menjadi salah satu bagian penting yang harus
dialamai oleh siswa disamping menekuni bidang seni budaya.
Sistem
penilaian di Cina juga berkaitan dengan sistem ujian. Sekolah Dasar dan
Menengah melaksanakan empat macam ujian, yaitu : ujian semester, ujian tahunan,
ujian akhir sekolah, dan ujian masuk SMP/ SMA. Ujian masuk SMP terbatas pada
mata pelajaran Bahasa Cina dan Matematika, sedangkan ujian masuk SMA pelaksanaannya
digabungkan dengan ujian akhir SMP. Untuk masuk Perguruan Tinggi, dilakukakn
Ujian Seleksi Nasional dengan pemisahan antara pilihan ilmu science dan ilmu
sosial.
Pendidikan
di china menggunakan system kredit dan dapat melanjutkan ke jenjang selanjutnya
apabila telah memenuhi angka kredit sedangkan di Indonesia, hal tersebut
dilaksanakan pada jenjang perguruan tinggi
Tingkatan
Pendidikan di China terdapat Pendidikan khusus. Sedangkan di Indonesia tidak
ada tingkatan pendidikan khusus. Muatan dari materi kimia yang diajarkan lebih
me
nekankan
pada aplikasi dan lingkungan. Sedangkan di Indonesia aplikasi dan lingkungan
tidak begitu diutamakan.
Perbedaan
yang lain terletak pada pemahaman mata pelajaran dan praktiknya, China lebih
menekankan praktiknya. Sedangkan kita ketahui bersama bahwa pendidikan di
Indonesia lebih menekankan konsep. Di China terdapat beberapa lembaga atau
sistem penjamin mutu program Cina, lembaga tersebut termasuk lembaga-lembaga
besar.